Faktor Pemicu Krisis Turki 2018 dan Dampaknya

Belakangan ini, tepatnya pada pekan kedua bulan Agustus 2018, rakyat Turki sedang diresahkan dengan krisis yang melanda negaranya. Hal ini ditandai dengan nilai tukar Lira Turki yang terjun bebas dan inflasi dalam negeri yang terus melejit sehingga menimbulkan kekhawatiran Turki tak dapat melunasi hutangnya (default). Tak hanya publik Turki sendiri, krisis Turki juga membuat beberapa negara di zona Eropa dan berkembang khawatir akan meluasnya dampak yang sama.
Lantas apa yang sebenarnya menjadi faktor pemicu krisis di negeri kebab ini dan bagaimana dampak yang bisa dimunculkannya di masa mendatang?

Faktor Utama Pemicu Krisis Turki di Tahun 2018

Meski benih-benih krisis yang terjadi di Turki ini terjadi sudah muncul sejak lama, namun hal ini diperparah dengan kegagalan pemerintah setempat dalam mengendalikan inflasi dan tindakan Erdogan dalam melakukan interverensi terhadap bank sentral. Tak hanya itu, konflik yang baru-baru ini terjadi antara Donald Trump dan Erdogan atas tuntutan Trump untuk membebaskan pendeta Kristiani Andrew Brunson membuat pihak Amerika Serikat mengeluarkan kebijakan tarif impor atas baja dan aluminium Turki menjadi dua kali lipat. Akumulasi permasalahan pelik yang dihadapi tersebut menimbulkan beberapa faktor utama pemicu krisis.

  1. Tingginya angka inflasi: Pertumbuhan money supply di Turki yang mencapai hingga 18 persen per tahunnya semenjak 2016 merupakan hal yang jauh melampaui ekspektasi bank sentral yang berada di angka 5 persen saja untuk mencapai target inflasi. Berdasarkan catatan, inflasi tahunan ini merupakan inflasi tertinggi Turki dalam kurun 15 tahun terkahir.
  2. Nilai tukar Lira merosot: Tahun 2018 nampaknya menjadi tahun yang kurang bersahabat bagi Turki. Pasalnya, di tahun ini, kurs Lira terhadap USD merosot sekitar 45 persen. Bahkan catatan tertinggi nilai tukar USD terhadap Lira berada di_7.0831 pada 3 Agustus kemarin.
  3. Kebijakan yang tak tepat: Erdogan yang dikenal sebagai seorang yang anti terhadap sistem bunga menganggap kenaikan suku bunga sebesar 17,75 persen yang dilakukan bank sentral sebagai sebuah pengkhianatan, padahal hal itu merupakan salah satu upaya bank sentral dalam mengendalikan situasi dengan menjaga likuiditas perbankan.

Dampak Krisis Turki di Masa Mendatang

Dalam beberapa hari terakhir, dampak krisis yang terjadi di Turki ini terlihat dari jatuhnya nilai Euro ke angka terendah selama 1 tahun terakhir serta mata uang negara berkembang yang melemah secara massal.

  1. Hubungan Turki dan negara-negara Eropa: Berdasarkan data terakhir dari Bank for International Settlement, bank asing memiliki klaim sebesar 223 miliar di Turki. Tiga per empat dari nilai tersebut merupakan eksposur bank-bank Eropa. Meski secara likuiditas bank Eropa cukup kuat untuk terus bertahan, namun pengaruh krisis yang ada di Turki tersebut menuntut adanya reevaluasi akan stabilitas finansial Eropa.
  2. Efek finansial ke negara berkembang: Pecahnya krisis Turki yang terjadi di kawasan Eropa tak secara langsung juga kita rasakan. Hal ini ditunjukkan dengan terjadinya pelemahan rupiah terhadap dollar yang mencapai angka 14,600. Pelemahan serupa juga dialami oleh beberapa nilai mata uang negara berkembang seperti Peso, Rupee, dan lain sebagainya. Perlu diketahui jika terjadinya pelemahan nilai tukar mata uang negara-negara berkembang ini terjadi lebih karena penguatan dollar di berbagai faktor, mengingat nilai eksposur negara berkembang di Turki sendiri tidaklah tinggi dan cenderung terbatas.