Faktor Penyebab Dollar Semakin Tinggi

posted in: artikel | 0

Tak bisa dipungkiri jika kurs rupiah terhadap dollar Amerika makin lemah belakangan ini, buktinya dollar hari ini yang menyentuh angka 14,578 per dollar. Hal ini tentu akan berpengaruh pada sektor ekonomi seperti kegiatan ekspor dan impor, hingga pada kebutuhan pokok yang cenderung naik dan strategi investasi masyarakat yang berubah pula.

Meski tak menutup kemungkinan rupiah bisa menguat, namun hal ini nampaknya sulit sekali jika melihat statistik pergerakan dollar yang terus menguat. Jika pemerintah dan masyarakat tidak menyikapi hal ini secara bijak dan tepat, bukan tak mungkin untuk melihat rupiah di angka 15,000 atau lebih di akhir tahun ini.

Meski secara pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah makin meningkat dalam beberapa dekade terakhir, namun hal ini belum secara signifikan membantu perekonomian bangsa membaik dan menguatkan nilai tukar rupiah. Untuk memahami lebih jauh mengapa nilai tukar rupiah ini cenderung lemah belakangan ini, ada beberapa faktor yang mempengaruhinya.

Makin meningkatnya perekonomian Amerika

Meski terjadinya penguatan dollar hari ini begitu kentara belakangan ini, namun sebenarnya upaya pemerintah Amerika Serikat dalam melakukan penguatan ini sudah sejak lama setelah adanya krisis yang melanda negeri tersebut 2008 silam. Setelah peristiwa tersebut, bank sentral di Amerika atau disebut The Fed membuat sebuah kebijakan dengan mengurangi stimulus program pembelian obligasi. Kebijakan yang dilakukan The Fed di tahun 2013 silam ini membuat nilai dollar kian menguat dan suplainya menjadi makin berkurang.

Hal yang sebaliknya justru terjadi pada mata uang rupiah Indonesia. Sebagai nilai tukar di negara berkembang, rupiah mudah sekali terdepresiasi akibat pengaruh dollar yang kian terus menekan. Terlebih karakter rupiah sebagai soft currency menjadi sangat sensitif dengan efek ekonomi global.Menurunnya harga komoditas ekspor

Permintaan barang ekspor sangat memegang andil dalam penguatan nilai tukar rupiah. Akan tetapi sayangnya permintaan barang ekspor dari berbagai belahan dunia cenderung menurun. Jadi, secara singkat Indonesia haruslah memiliki kualitas produk yang bagus untuk bisa bersaing di pasar global yang akan meningkatkan tingkat ekspor barang.

Tingginya angka impor

Persepsi masyarakat yang selalu menganggap barang dari luar negeri selalu lebih baik dibandingkan dengan produk dalam negeri dari segi kualitas membuat permintaan impor barang cenderung meningkat. Tak sebandingnya angka ekspor dan impor yang cenderung selalu didominasi oleh angka impor membuat kondisi perekonomian dalam negeri semakin melemah. Dan imbasnya tentu rupiahlah yang terkena.

Krisis Turki yang makin menguatkan dollar

Krisis finansial yang terjadi di Turki beberapa bulan terakhir ini nampaknya membawa efek buruk pada kegiatan ekonomi global dan nilai tukar mata uang negara berkembang terhadap dollar. Hal ini terjadi tak hanya karena eksposur bank-bank Eropa di Turki masih tinggi sehingga memberikan efek pada tingkat likuiditasnya dengan ditandai dengan penurunan nilai euro terhadap dollar, namun juga efek penguatan dollar hari ini yang semakin tak terbendung terhadap nilai tukar mata uang di negara berkembang.

Comments

comments